Murica Life

Dari depan gerbang kampus Northwestern University, Perdana Putri – 2017. Copyleft.

Halo, halo. Ini laman baru yang ingin saya kembangkan menjadi satu halaman tersendiri untuk menceritakan pengalaman fellowship saya di Northwestern University, Evanston, Illinois.

Juni 2017 lalu saya mendapatkan kesempatan terbang ke Amerika Serikat untuk mengikuti program Arryman Pre-doctoral Research Fellowship. Intinya sih selama satu tahun ke depan saya akan digembleng untuk menulis riset (tanpa kerja lapangan)/preliminary, sebelum tim beasiswa fellowship ini dan departemen Sosiologi tempat saya menimba ilmu memutuskan apakah saya layak menjadi full-time murid PhD mereka.

Kampusnya secara khusus memang bekerjasama hanya dengan Northwestern University. Kampus yang besar, salah sebuah kampus Ivy Plus di Amerika Serikat layaknya Massachusetts Institute of Technology, Standford University, University of Chicago, dan Duke University. Kalau kata majalah Jacobin, 60% mahasiswanya datang dari keluarga berpendapatan rendah dan hampir seluruh 60% itu kesulitan membayar pinjaman mahasiswa (student loan) dengan bunga gila-gilaan yang lazim dikenakan institusi pendidikan privat ke banyak mahasiswa di Amerika Serikat. Hanya 16% dari yang 60% tersebut berada di tata kelola kampus khususnya di badan mahasiswanya. Kebanyakan tidak sanggup ikut kegiatan macam-macam karena harus bekerja mati-matian untuk menutupi hutang sekolahnya.

Bagaimanapun Northwestern University adalah sekolah yang baik. Sistem kelola mahasiswanya dan stafnya terintegrasi dan aman. Dari segi akademik pun pencapaiannya luar biasa. Banyak dosen keren dan produktif di sini. Sebagai contoh saya tidak perlu membayar untuk Adobe Creative Package dan Microsoft Office Pro365, plus beberapa piranti lunak lainnya yang menunjang kebutuhan saya sebagai mahasiswa. Bukan untuk bilang yang mahal selalu timbal balik sih (melirik ke kampus kuning di Depok), tapi setidaknya institusi pendidikan dari privat yang sering digadang-gadang di Amerika ini memang sesuatu. Hari pertama sampai, langsung dibawa mengurus birokrasi kampus, mengunjungi pertokoan kampus untuk memesan laptop (bagian dari beasiswa, bukan dikasih sama Northwestern-nyah), membuat akun bank, dan lain-lain. Asuransi kesehatan dari kampus yang saya terima pun meliputi proses lahiran (kalau hamil dan lahiran), bangsal rumah sakit kelas satu, swasta maupun negeri, hingga banyak lagi. Walaupun tentu saja banyak kertas-kertas petunjuk yang membuat vaksin meningitis saya langsung runtuh.

Tapi siapa yang bilang jalan menuju Ph.D itu mulus? Ini juga belum tentu saya lulus evaluasi dan standar. Anyway….

Evanston tempat Northwestern University berlokasi juga bukanlah kota yang terlalu besar. Cukup puritan, karena kecuali IHOP, restoran panekuk Amerika, tidak ada yang buka 24 jam. Atau saya aja yang belum tahu sih. Seven-Elevennya tidak menjual bir. Di kota ini tidak dibenarkan ada lima perempuan di satu rumah karena akan dikira rumah pelacuran. Evanston ini didirikan oleh John Evans, seorang Metodis kaya raya yang saking uangnya berlimpah membangun kota (yang akhirnya mengadopsi namanya pula) dan kampus ungu tempat saya akan berpusing-pusing selama setidaknya setahun ke depan. Hampir setiap blok saya bisa menemukan gereja.

Barnes and Nobles-nya tidak lengkap.

Overall, Evanston adalah kota yang nyaman dan selama seminggu tinggal di sini saya belum mengalami kejadian serius yang mengancam.

***

Laman ini dibuat bukan buat pamer saya sedang residensi di tanah Trump sih. Lebih ke proses belajar subjek hal yang benar-benar baru buat saya; Sosiologi. Ketika mengajukan beasiswa ini, saya sebenarnya merujuk ke departemen Antropologi. Namun ketika mereka mengulas rancangan penelitian saya, departemen Sosiologi merasa lebih baik riset saya masuk kluster mereka. Toh di Northwestern sampai saya menulis blog ini, tidak ada peminatan lingkungan, yang justru ada di Sosiologi. Namun, saya baru sadar, untuk ukuran orang yang sering terpapar teks Antropologi, sebenarnya banyak penelitian saya memakai konsep-konsep sosiologi. Skripsi saya menggunakan sosiologi seni dan penelitian saya mengenai istri TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Praya menggunakan konsep sosiologi gender; terus kenapa saya malah milih antropologi jika pada praktiknya saya sudah lumayan akrab menggunakan kacamata sosiologi?

Omong-omong saya juga baru sadar soal di atas dua hari lalu. Kebodohan kadang memang kadang lebih radikal dari intelektualitas seseorang.

Advertisements