Daily Motion · Murica Life · pengalaman

Kutak-Katik Kindle

Mengapa blog adiluhung saya ini tiba-tiba ingin mengulas gadget? Tidak tiba-tiba juga sebenarnya. Dan kalau boleh menjustifikasikannya, gawai yang ingin saya jelaskan ini bagian dari proses membaca.

Kindle adalah tablet berukuran 6-7 inch monofonik keluaran Amazon yang secara eksklusif  hanya untuk membaca. Perangkat ini bisa dihubungkan dengan internet (wi-fi) untuk kebutuhan install/registrasi nanuninu ketika pertama kali dinyalakan dan untuk ungguh/unduh buku elektronik. Sebenarnya ada banyak perangkat keras untuk membaca, Barnes and Nobles (semacam Gramedia di Amerika) mengeluarkan Nook yang fungsinya kurang lebih sama dengan Kindle, tapi terintegrasi dengan jaringan toko bukunya (sementara Amazon tentu saja dengan web belanjanya). Tetapi bagi saya koleksi buku Amazon jauh lebih banyak dan murah ketimbang Barnes and Nobles, jadi saya tidak beli Nook. Alasan lain saya keburu sudah punya akun Amazon, dan malas bikin akun Barnes and Nobles. Maka jadilah demikian agar supaya.

Mengapa saya tidak beli tablet biasa (iPad, Kindle Fire, Samsung, dll)? Alasan utama sebenarnya uang. Saya membeli Kindle Paperwhite Third Generation warna hitam di saat diskon seharga 100 dollar lengkap dengan casing (harga casingnya sendiri bisa 16-an dollar), dari harga aslinya yang 120 dollar belum termasuk pajak. Tablet bisa jadi sangat mahal hingga 200an dollar bahkan yang certified refurbished alias bekas tapi resmi karena diinspeksi oleh Amazon. Plus, tablet yang ada fungsi hiburannya seperti iPad atau Samsung tidak akan membantu tujuan awal saya membeli alat baca elektronik: ya untuk membaca. Alih-alih membaca, saya haqqul yakin malah akan mengurus kucing-kucing lucu di Neko Atsume.

Bagi teman-teman yang sedang mempertimbangkan secara serius soal pilihan tablet/Kindle/Nook/Sony Reader/dll, mungkin laman ini bisa membantu.

Oke, ini barangnya

This slideshow requires JavaScript.

Sebaiknya kalian punya akun Amazon ketika beli Kindle, karena akan memudahkan pemakaiannya. Tapi kayaknya kalau tidak punya pun tidak masalah dan bisa bikin akun khusus buat Kindle saja. Cara mengunggah bukunya cukup gampang kalau ada akun Amazon tadi. Unduh software Send to Kindle, login ke akun Amazon, dan tinggal klik kanan file yang mau ditaruh di perangkat Kindlenya.

 

svk
Penampakan kalau sudah install Send to Kindle. Tinggal klik kanan, pilih Send to Kindle, ubah nama filenya jika ingin, dan tungguh saja proses unggahannya.

Alasan kalian lebih mudah mengoperasikan Kindle dengan akun Amazon tentu saja agar kalian (bisa diarahkan untuk) membeli buku di sana. Mungkin tautan berikut bisa berguna jika kalian ogah punya akun Amazon untuk Kindle. Singkat cerita: matikan wi-fi, registrasi dengan email biasa, dan install program bernama Calibre (aplikasi yang bagus, btw) :3 File yang bisa dibaca Kindle lucunya bukanlah epub, tapi MOBI/PDF/Docx/dll (belum pernah coba selain tiga jenis ini). Sangat menyarankan untuk menggunakan MOBI alih-alih PDF, karena PDF akan diperlakukan sebagai gambar di sini, dan mau menggarisbawahi teksnya jadi sulit. MOBI bisa didapatkan kalau kalian membeli buku di Amazon (yeah, right), membajak di Library Genesis, atau filenya dialihkan (convert) menjadi .MOBI melalui aplikasi Calibre tadi.

Fitur-fitur membacanya kurang lebih mirip dengan iBook di produk Apple atau Google Playbook di Android. Bedanya (dan ini yang nyebelin), tidak ada garis panjang yang bisa kita geser-geser untuk mengganti halaman dengan cepat. Membaca di Kindle memang membuat jadi disiplin, halaman harus dibuka satu persatu. Di sisi lain, ada fitur “Go To Page/Location” yang bisa dipakai untuk memasukkan halaman/chapter yang ingin kita lihat.

whatsapp-image-2018-01-01-at-2-30-29-pm.jpeg
Panah biru yang urang kamsud

Kekurangan Kindle bagi saya memorinya tidak cukup besar, hanya 4GB saja. Tetapi kalau membaca dengan file .MOBI, besarnya jadi masuk akal. Ukuran standar file .MOBI untuk 300-400 halaman buku memang tidak sampai 600KB.  Masalahnya saya terbiasa dengan .PDF yang membuat file jadi lebih besar. Mungkin di masa mendatang, kalau masih mencintai Kindle, saya akan upgrade ke Kindle Oasis yang memorinya 32GB. Kindle Oasis juga saat ini adalah e-reader yang paling lebar layarnya di antara produk Kindle lain (7 inch). Harganya 230 dollar, hiks. Kalau punya uang yang tega dibelanjakan, di luar tabungan dan belanja kewajiban — mungkin itu sikap yang lebih tepat.

 

Jadi bagaimana?

Sejauh ini saya tidak merasa kecewa. Awalnya cukup menjengkelkan karena saya bukan orang paling techy untuk urusan gawai, dan berpikir sepertinya tidak membeli juga tidak apa. Namun dalam kasus pribadi, e-reader sangat membantu. Beberapa waktu lalu, saya ditengarai mengidap chronic fatigue syndrome alias kelelahan ekstrim. Mereka curiga itu virus, tapi saya lebih curiga lagi itu genetik. Plus, memang ada sesuatu abnormal di saraf punggung yang membuat badan saya lelah lebih cepat dan sulit duduk tegak (pasti sakit pinggang setelahnya). Badan saya harus dimanja, kata dokter. Misalnya dengan bersantai dan mengatur punggung di tempat yang nyaman ketika membaca. Bukan penyakit yang serius, karena kalau ditinjau dari paparan si dokter, ini aing udah ngalamin sejak SMA (dan kedokteran Amerika sepertinya senang melebih-lebihkan perihal seperti ini). Toh sejauh ini euG baik-baik saja. Sesuai kata Opung dan YM Tetty Yulianty; banyak minum air putih saja. Seolah setengah masalah tubuhmu akan selesai dengan itu. Tapi nampaknya saran itu manjur.

Well, mustahil. Saya (dulu) adalah pembaca yang disiplin. Membaca adalah kegiatan di atas meja, atau di himpitan ketiak para commuter KRL Jabodetabek (via HP, tapi lama-lama mata saya jadi jereng; ini juga salah satu alasan saya membeli e-reader — layar HP saya kecil dan membaca di HP gampang terdistraksi untuk hiburan layaknya tablet).

Jadilah setelah sebulan berpikir keras, saya mencoba peruntungan dengan Kindle untuk membantu proses membaca. Sejauh ini saya beruntung. Sekarang membaca sambil tidur bukan kesulitan lagi buat saya dan tidak harus duduk (sesuatu yang dulunya tidak mungkin terjadi). Kindle juga membantu mengurangi beban duniawi saya untuk menenteng-nenteng buku kemanapun. Tahun 2017 adalah masa di mana saya sudah mulai peduli setan dengan mengoleksi buku fisik dan menyayangi mereka seperti anak sendiri. Alasan saya membeli buku saat ini cuma dua: 1) tidak ada di Library Genesis/situs open-source, 2) kebetulan bukunya memang sangat saya sukai/berarti buat saya jadi harus dikoleksi. Kalau tidak keduanya, ya sudah baca gratis entah di mana. Sejak beasiswa alasannya bertambah, 3) wong ada dana dukungan untuk membeli, jadi ya sudah. Kindle membuat saya makin ma’rifat dengan visi persetan-koleksi tersebut.

Di dua minggu pertama saya membeli Kindle, ada tiga buku yang saya berhasil baca secara mendetil, termasuk di sela-sela itu membaca Grundrisse (masih berjuang di halaman 500an, huhuhu). Jadi saya tidak perlu membaca berbagai buku kemana-mana, cukup menenteng Kindle, dan menggotong Grundrisse yang beratnya kayak dosa (masih harus bawa yang buku aslinya karena kalo buku tebal saya masih bersetia dengan teknis membaca yang disiplin), jadilah saya bisa terus membaca. Tampilan Kindle yang cuma bisa memuat beberapa paragraf (untuk file .MOBI, kalau file .PDF tampilannya normal seperti di komputer) mendorong saya terus membaca karena gak banget kan cuma baca 2-3 paragraf yang terlihat seperti berhalaman-halaman?

Secara finansial (walaupun saat ini saya menikmati privilese beli buku gratis), Kindle juga menolong saya agar tak membeli buku lebih banyak lagi. Tentu saja pernyataan saya terdengar sangat brengsek terhadap para kolektor buku terlebih lagi penjualnya. Tetapi orang seperti saya ini sedikit (berdua deh sama Bosman yang sejak 2011 sudah percaya dengan konsep tak ada buku fisik = tak ada beban hidup– harafiah). Masih banyak orang yang membeli buku untuk kontak fisik dengan tumpukan kertas penuh makna yang dijahit tersebut. Banyak dari mereka yang punya kecintaan terhadap bau buku. Bagaimana pun, yang namanya craftmanship itu tidak bisa dibeli, buku fisik bukan cuma buku fisik, tapi seluruh proses dari mulai mendesain, mencetak, mengikatnya menjadi satu, menghubungkan pembacanya dari satu klub buku ke yang lain melalui diskusi, dan-lain-lain. E-book dan e-reader cuma jadi moda artifisial cepat saji agar para pembacanya tetap ada, tapi melompat jauh dari proses kerajinan tersebut.

Saya memakai karena alasan yang sangat personal, jadi kalau sedulur tidak punya alasan yang cukup meyakinkan agar membeli e-reader, ya buat apa? Mending beli bakwan Malang, nasi padang, batagor, odading Bandung, lontong sayur, lontong pecel, nasi pecel, sego kucing, sate telur puyuh kecap, gorengan, gulai kepala ikan Kakap Pariaman, ikan kerapu bakar, kue lupis, gulai otak sapi, kolak biji salak, sala lauak, dan ayam penyet Bu Ani Depok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s