pengalaman · Serius-Gak Serius

Mood Swing

Yah, akhirnya saya sidang juga. Benar-benar hook tulisan yang tidak menarik.

Well, seperti yang sudah saya duga. Saya bakal dibantai. Mulai dari teknis yang tidak kompeten (ketika tidur saya menangis setelah melihat betapa bobroknya jalinan paragraf saya) hingga analisa yang kurang elaboratif. Jadi diberi waktu seminggu untuk revisi. Tapi memang dasar pemalas, sampai detik ini progress revisi hanya sampai di titik niat, belum menuju praksis.

Padahal semua orang sudah memanggil saya dengan sarjana humaniora, bahkan Bapak, saya cuma tersenyum kecut ketika mendengar sarjana. Revisi belum kelar dari penelitian yang payah? Lalu bermimpi untuk postgrad ke salah satu kampus Ivy League? Ha! Lebih gampang membayangkan keledai memakai boots Doc Mart (entah apa pula korelasi ini).

Setelah sidang, saya merasa gamang saja. Saya termanggu-manggu melihat onggokan draft skripsi yang dipenuhi coretan. Sekarang bawaannya kalau lihat frasa “avant-garde” mau muntah. Rasanya saya mau nonjok siapapun yang menyebutkan nama “Tatlin” atau “Rodchenko” atau “Malevich”. Setiap kali melihat segi empat hitam, saya merasa itu seperti Mata Mordor dan saya jadi tantrum sendiri.

Saya menjauhkan diri dari apapun tentang seni rupa, tapi pameran OK Video akan segera datang dan saya kepalang janji untuk melihat. Tanpa sebelumnya akan memprediksi pasca sidang, segala tentang seni rupa (khususnya dari geng-geng van guard) akan membuat saya merasa tak berharga.

Ketidakpuasan saya berada pada core penelitian. Memang awalnya saya ingin memakai analisa wacana kritis untuk melihat relasi kuasa dalam medan seni rupa (lukis) avant-garde di Rusia. Lebih tepatnya saya ingin memakai Michel Foucault, tapi apa daya, dosen pembimbing saya bukan penggemar berat filsafat kontinental. Tapi sebenarnya ini tidak masalah, saya malah jadi belajar tentang analisa wacana visual yang bagi saya sangat menarik.

Ketika skripsian, saya sedang bekerja di Remotivi. Walhasil, karena kemampuan manajemen waktu yang masih acakadut, saya sering skip baik dari skripsi maupun pekerjaan. Kalau ada yang skripsi ajarkan kepada saya selain bagaimana membaca Black Square-nya Malevich, maka itu adalah manajemen waktu. Modal berharga untuk postgrad nanti. Kalau bisa, tentunya.

Pernah suatu kali saking capeknya mengerjakan skripsi selepas kerja, saya mengetik “Bahasa visual dalam lukisan Rodchenko merupakan bukti nyata perampasan frekuensi publik dan ketidakberdayaannya negara“. Yah, untung saya segera tersadar dan sambil terisak menghapus kalimat ngaco itu.

*

Setelah sidang Bapak menelfon, dia menyarankan saya langsung ambil postgrad saja. Tapi mengingat pilihan pertama saya adalah salah satu kampus di Ivy League di (sensor), saya agak jiper dan merasa ada yang berbisik halus di telinga saya, “YOU DON’T MATTER, MADAFAKA”. Modal saya masih minim. Paper publikasi baru dua biji, itu pun cuma proceeding. Sampah pula.

Menciptakan software di umur belia? Tidak.

Pendayung kayak terkenal? Bahkan saya tidak tahu apa itu dayung kayak sampai SMA. Tidak.

Jadi saya gak yakin apa modal saya berusaha menembus gerbang yang sangat intimidatif kampus-kampus mentereng amrik itu.

Passion saya soal Rusia masih ada, tapi gak seberat dulu. Tidak seperti ketika saya menuliskan puisi tentang Rusia di blog ini. Dalam hidup yang trandiskursif, inkonsistensi adalah satu-satunya kemutlakan, bukan? Ya, ini pembenaran.

22.39, dan saya rasa ini saat yang tepat untuk fangirling boyband Korea revisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s